
SUKABATAM.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semua Indonesia (BEM SI) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah universitas terkemuka memutuskan buat keluar dari organisasi tersebut. Dalam beberapa ketika terakhir, beberapa BEM dari berbagai universitas besar di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (Undip), telah menyatakan untuk meninggalkan aliansi yang sebelumnya menjadi wadah primer bagi gerakan mahasiswa di tanah air.
Polemik Internal BEM SI
Keputusan buat keluar dari BEM SI ini ditengarai terkait dengan dinamika internal yang terjadi di organisasi tersebut. Beberapa pengamat menilai bahwa konflik di dalam BEM SI tak tanggal dari adanya sentimen terkait kepentingan politik yang mulai masuk ke dalam organisasi mahasiswa ini. Sebuah sumber dari BEM Undip menuturkan, “Keputusan ini kami ambil demi menjaga independensi gerakan mahasiswa dan menghindari adanya tekanan politis yang mampu mempengaruhi kebebasan dalam berorganisasi.”
Keterlibatan politisi dan figur-figur dari kalangan Badan Intelijen Negara (BIN) pada Musyawarah Nasional (Munas) BEM SI baru-baru ini juga dianggap sebagai salah satu pemicu primer keluarnya beberapa BEM dari aliansi tersebut. Kehadiran mereka dalam agenda penting tersebut dinilai mencederai independensi aliansi mahasiswa terbesar ini. “Hal ini memberikan kesan bahwa BEM SI sudah keluar dari rel perjuangan mahasiswa yang seharusnya bebas dari intervensi eksternal,” ujar seorang aktivis mahasiswa yang meminta untuk namanya dirahasiakan.
Reevaluasi Peran dan Fungsi BEM SI
Ketegangan di dalam tubuh BEM SI ini memicu berbagai pihak buat mendesak dilakukannya reevaluasi peran dan fungsi dari organisasi tersebut. Beberapa pihak menyarankan agar BEM SI lebih fokus pada isu-isu yang benar-benar menjadi kebutuhan fundamental bagi mahasiswa, seperti dana pendidikan, fasilitas kampus, dan kebijakan pendidikan nasional lainnya. “Seharusnya, BEM SI menjadi corong bagi suara mahasiswa dan memperjuangkan kepentingan mereka, bukan malah tercebur dalam politik praktis,” kata seorang dosen di UGM yang juga mengamati perkembangan gerakan mahasiswa.
Keluarnya sejumlah BEM dari aliansi ini juga memicu diskusi tentang masa depan gerakan mahasiswa di Indonesia. Masih banyak yang berharap BEM SI masih menjadi wadah yang solid dan independen. Tetapi, langkah beberapa universitas yang menarik diri dari aliansi ini menunjukkan bahwa ada ketidakpuasan yang harus segera diselesaikan. “Ini adalah ketika yang tepat bagi BEM SI untuk merenungkan langkah-langkah ke depan agar tidak kehilangan relevansi sebagai organisasi mahasiswa terdepan,” ujar analisis politik pendidikan, Ahmad Riyadi.
Krisis ini diharapkan mampu menjadi momentum bagi BEM SI untuk melakukan pembenahan dan kembali konsentrasi pada hakikat perjuangan mahasiswa yang netral dan murni. Keputusan yang diambil oleh BEM UGM, Undip, dan beberapa BEM lainnya diharapkan dapat menjadi renungan bagi BEM SI untuk kembali mengedepankan kepentingan mahasiswa tanpa adanya temuan dari pihak luar. Dengan begitu, gerakan mahasiswa di Indonesia mampu kembali menjadi kekuatan moral yang disegani dan dihormati.



