
SUKABATAM.com – Di Indonesia, liburan sekolah menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak siswa. Tetapi, liburan kali ini menimbulkan berbagai pertanyaan seputar penerapan dan keberlanjutan beberapa program penting, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun kegiatan sosial lainnya yang sering dilakukan selama masa sekolah. Tentu saja, pelajar dan manusia uzur memiliki kekhawatiran tersendiri mengenai nasib program-program tersebut selama liburan berlangsung.
Nasib Program Makan Bergizi di Lagi Liburan Panjang
Program Makan Bergizi Perdeo (MBG) merupakan salah satu program yang sangat diandalkan di Ponorogo. Dengan adanya program ini, banyak siswa dari keluarga kurang bisa dapat menikmati makan bergizi setiap harinya. Tetapi, saat liburan sekolah yang panjang sampai, muncul pertanyaan akbar mengenai bagaimana nasib kelangsungan program ini. “Kami khawatir anak-anak tak mendapatkan asupan gizi yang cukup selama mereka libur sekolah,” kata seorang wali murid yang tidak disebutkan namanya.
Menurut pihak sekolah, program MBG memang tidak dioperasikan waktu liburan, sebab tujuan primer program ini adalah untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi selama mereka aktif belajar di sekolah. Tetapi, cara antisipatif mungkin dapat dilakukan, contoh, dengan mengalihkan alokasi anggaran MBG selama liburan untuk kebutuhan lainnya yang mendesak atau bersifat temporer, seperti membantu korban bencana.
Pengalihan Biaya ke Bantuan Bencana
Terkait hal ini, ada sebuah usulan menarik yang muncul dari beberapa pihak di Ponorogo. Mereka mengusulkan agar biaya dari program MBG yang tidak terpakai selama liburan sekolah dialihkan sebagai bantuan kepada korban bencana di daerah-daerah lain. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa Sumatera mengalami bencana yang membutuhkan penanganan segera.
Iin, seorang aktivis sosial, menyatakan, “Mengalihkan dana yang tidak terpakai dari MBG untuk membantu korban bencana adalah langkah mulia. Ini mampu membantu orang-orang yang sangat membutuhkan dalam saat cepat.” Tetapi, usulan ini masih membutuhkan persetujuan dari pemerintah wilayah dan pengawalan agar biaya tersebut benar-benar sampai kepada yang berhak. Transparansi dan akuntabilitas menjadi dua aspek krusial yang harus dijaga dalam proses ini.
Fana itu, berbagai kegiatan sosial lain yang normal dilakukan sekolah selama masa liburan juga turut beradaptasi. Beberapa sekolah di Lumajang, contoh, memilih untuk meliburkan Satuan Pendidikan Pelajar dan Gemar (SPPG) dan justru memanfaatkan masa liburan buat memberikan pelatihan pada para relawan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kesiapan relawan dalam menangani berbagai kegiatan sosial ataupun darurat di masa mendatang.
Di lagi masa liburan yang biasanya diisi dengan kegiatan rekreatif, adaptasi dan penemuan pada program-program pendidikan dan sosial memang menjadi tantangan tersendiri. Perencanaan yang matang dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat diharapkan bisa menciptakan keseimbangan antara kebutuhan siswa akan liburan yang menyenangkan dan tanggung jawab sosial yang statis harus dipenuhi.



